Skip to content
Mei 19, 2007 / dewanggastanpbg

Setjen Depkeu Beri Lampu Hijau, BLU STAN Makin Nyata

[civitas-stan.com] : Metamorfosis STAN menuju BLU
makin mendekati titik akhir setelah pada Rabu (2/5) lalu tim kerja
penyusun persyaratan penerapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum (PPK BLU) yang dipimpin Direktur STAN mempresentasikan persiapan
STAN menyongsong BLU di Sekretariat Jenderal (Setjen) Departemen
Keuangan. Dalam presentasi tersebut Direktur STAN, Suyono Salamun Ph.D
memaparkan beberapa poin penting seperti proposal Rencana Bisnis dan
Anggaran (RBA), usulan Standar Pelayanan Minimum (SPM), keorganisasian
BLU STAN, pola pengaturan keuangan, dan target-target yang akan dicapai
oleh BLU STAN.

Ketika ditanyai progress perubahan status STAN
menjadi BLU, Suyono Salamun mengisyaratkan bahwa proposal dan seluruh
persyaratan lainnya telah diajukan dan tinggal menunggu restu Menteri
Keuangan. “Namanya juga birokrasi, kalau
belum disahkan saya belum berani memastikan,” jelasnya. Nada optimis
terlontar dari Kuwat Slamet, staf pengajar STAN yang terlibat dalam
mempersiapkan STAN menjadi BLU. “Progress STAN untuk menjadi BLU
mungkin sudah mencapai 85% karena Setjen telah memberi sinyal hijau,”
ujar pria berkacamata ini seraya mengungkapkan keyakinannya bahwa STAN
akan ditetapkan sebagai BLU pada tahun ini.

Banyak Kendala

Ditemui di ruang tamu direktur selepas jam kerja, Budi Waluyo,
anggota tim kerja penyusun persyaratan penerapan PPK BLU, mengutarakan
beberapa kendala dalam penyusunan proposal seperti belum adanya SPM BLU
yang baku untuk sekolah tinggi atau universitas sehingga tim kerja
berusaha untuk menyusun standar pelayanan minimum sendiri. Ketika Koran
Civitas meminta konfirmasi dari Direktur STAN mengenai RBA dan SPM BLU
STAN, Suyono Salamun hanya menjelaskan bahwa RBA dan SPM belum
ditetapkan. Karena setelah dipresentasikan ada beberapa masukan
sehingga sampai sekarang kedua proposal yang merupakan syarat
administratif BLU, sedang diperbaiki dan belum dapat dirilis.

Mengenai SPM, beberapa mahasiswa yang Koran Civitas tanyai sepakat
bahwa SPM harus meliputi penyediaan literatur wajib dan pendukung,
perbaikan infrastruktur, sarana penunjang proses perkuliahan, dan
kebersihan kampus. Selain kendala dalam penyusunan proposal, Budi
Waluyo melihat bahwa penerapan BLU dihadapkan pada permasalahan
resistensi. Penerapan sesuatu yang baru pastinya membutuhkan waktu
untuk beradatasi. “Pembenahan intern harus diperhatikan saat ini,”
ujarnya.

Kuwat Slamet juga mengungkapkan kemungkinan munculnya resistensi.
“RBA BLU STAN harus diperhatikan dan direncanakan dengan cermat
terutama mengenai penerimaan mahasiswa nonreguler dan pengajar
nonreguler karena berdampak pada pola kehidupan kampus,” tegasnya.
Meski begitu Kuwat Slamet berpendapat bahwa penerapan PPK BLU memiliki
sisi positif karena menawarkan pengelolaan pendapatan yang fleksibel
dan didalamnya semua pengelolaan bisnis dan keuangan harus transparan.
Menanggapi kemungkinan terjadinya kesenjangan antara mahasiswa reguler
dan nonreguler, Bagus Kusuma, Presiden Mahasiswa STAN, berpendapat
bahwa kesenjangan muncul dari prasangka semata.

“Hanya perasaan kita aja yang beranggapan gap akan muncul. Kalaupun benar, BEM siap menjembatani gap
tersebut karena pada dasarnya BEM mendukung BLU untuk STAN yang lebih
baik,” ujar Bagus seraya menambahkan bahwa jika BLU jadi diterapkan
BEM akan berusaha untuk mensinergikan Rencana Strategi (Renstra) BEM
dengan Renstra STAN.

[Aulia Rachman]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: