Skip to content
Juni 8, 2007 / dewanggastanpbg

STAN dalam Kacamata Seorang Mahasiswa

Oleh : Sapto Langgeng*
Bulan
Juli hingga Agustus ini, ada event akbar di Jakarta yang bikin geger
seantero Indonesia. Dan mungkin pula, event ini sangat dinanti
berjuta-juta manusia yang memimpikannya. Tapi bukan Indonesian Idol.
Memang sih, sama-sama bekennya. Tapi bukan itu yang saya maksud. Yang
saya maksud adalah Ujian Saringan Masuk (USM) STAN. Lho, kok bisa? Ya,
iyalah bisa. Coba kita lihat data statistik pendaftaran USM tahun
kemarin. Mencapai lebih dari 100 ribuan pendaftar. Angka yang sangat
fantastis, bukan? Bahkan MURI menobatkan STAN sebagai PTK terfavorit
saat itu. Lalu, mengapa STAN bisa kebanjiran pendaftar dibandingkan
dengan PTK-PTK lain yang tersebar di Indonesia? Ini pertanyaan
menarik.

Maka saya mencoba menelusurinya. Sebagian besar mahasiswa atau
alumni yang saya tanya menjawab dengan jawaban yang hampir senada.
‘STAN itu enak, mas. Udah kuliah gratis, abis lulus ga usah pusing
cari kerja!’. Kalau dipikir-pikir, benar juga, sih. Saya jadi ingat
pertama kali saya memutuskan untuk kuliah di kampus Jurangmangu ini.
Sedikit membuka aib, sebenarnya saya kuliah di STAN bukan karena
alasan-alasan di atas.

Bahkan, saya tidak tahu STAN itu sekolah apa dan di mana letaknya.
Saya cuma ikut-ikutan saja waktu itu. Waktu itu saya berpikir, gimana
kalau saya tidak lulus SPMB. Mau kuliah di mana saya nanti. Dan
ternyata, firasat saya benar. Saya tidak lulus SPMB. Sebelumnya saya
juga mencoba ikut Ujian Mandiri (UM) UGM. Lagi-lagi saya gagal. Waktu
itu saya benar-benar depresi. Itulah saat-saat di mana saya berada pada
titik terendah dalam hidup saya. Rasa-rasanya ingin sekali membenamkan
diri dan lenyap dari permukaan bumi. Saya malu. Malu kepada keluarga,
malu kepada teman-teman, malu kepada guru. Seakan-akan saya adalah
makhluk paling bodoh di jagat raya ini.

Kemudian datanglah kabar itu. Bak angin surga, saya tak
henti-hentinya mengucapkan syukur. Saya diterima di STAN! Setelah
ditolak beberapa universitas, akhirnya saya dapat melanjutkan kuliah di
sekolah tinggi yang terus terang tidak pernah terpikirkan oleh saya
sedikit pun. Bahkan dalam mimpi! (ceilee.. hiperbolis banget!)
Tapi mungkin ini sudah jalannya. Takdir Tuhan yang menetapkan saya
harus melewati jalan ini. Saya justru bersyukur dapat melanjutkan
pendidikan di sini. Setelah saya tahu apa itu STAN dan di mana
letaknya, saya justru bahagia tidak diterima di universitas-universitas
negeri idaman remaja seusia saya waktu itu. Saya tidak usah
mengeluarkan biaya ini-itu yang selangit tingginya. Dan keluarga tak
perlu pontang-panting hutang sana-sini buat menutupinya. Yah, semuanya
memang ada hikmahnya.

Tuhan tidak tidur. Dia sudah merencanakan sesuatu yang terbaik bagi
hamba-Nya yang mau mengerti. Tapi pada awalnya, saya agak pesimis saat
pertama kali menginjakkan kaki di kampus plat merah ini (istilah ini
saya tahu setelah beberapa bulan kuliah). Saya yang berasal dari kelas
IPA yang notabene berhubungan erat dengan matematika atau fisika harus
banting setir ke jurusan yang IPS banget, yaitu Akuntansi. Memang sih,
sebelum penjurusan, saya sempat mendapatkan mata pelajaran ini selama
satu tahun, cuma kenapa ya, saya kok susah banget untuk mendapatkan
nilai bagus untuk yang satu ini. Paling banter 6 atau 6,5. Makanya saya
tidak begitu yakin akan sukses dalam akademis nantinya. Namun, seiring
berjalannya waktu, saya menyadari situasi di sini. Segala fasilitas dan
‘kenyamanan’ yang tercipta. Gedung-gedung yang kurang terawat, tata
ruang yang acak-acakan, kambing-kambing yang berkeliaran (saya pernah
mengira ini hewan peliharaan STAN, lho!), dan manusia-manusianya yang
beraneka ragam.

Kuliah di sini pun terbilang santai. Waktu tingkat satu saya malah
pernah kuliah hanya 3 hari dari 5 hari aktif perkuliahan. Jadi 2 hari
sisanya, saya bisa santai-santai di kos-kosan atau pulang ke rumah
orang tua. Belum lagi kalau ada dosen yang tidak bisa hadir dan
mengajar di kelas, semakin menambah jadwal malas-malasan saya.

Ujian? Tenang, semua materi bisa dilalap dalam satu malam alias SKS.
Apalagi seminggu sebelum ujian, beredar kisi-kisi yang bejibun
banyaknya. Bahkan kalau beruntung, soal-soal ujian besok pagi adalah
salinan tepat dari kisi-kisi sehari sebelumnya. Dan jangan khawatir
dengan DO di STAN. Meskipun terlihat menyeramkan dengan segala
perangkat peraturan yang terkesan amat ketat, lolos dari drop out pun
bukan suatu kemustahilan. Ada saja dosen yang akan membantu. Bahkan
katanya nih, ada dosen yang memberi nilai ujian mahasiswa-mahasiswanya
dengan menggunakan sistem pukul-rata nilai B atau B+. Ada juga dosen
bonus yang sudah memberi sinyal bahwa beliau tidak akan memberikan
nilai kepada mahasiswa-mahasiswanya dengan nilai C-.

Pokoknya semua mudah-mudah saja asal kita juga mengikuti peraturan.
Tapi akhir-akhir ini, saya jadi berpikir. Apa ini yang namanya kuliah?
Kok kelihatan nggak intelek banget. Terkadang saya merasa
bersalah juga sudah mengecap pendidikan disini. Saya sudah menyisihkan
500 calon mahasiswa lain untuk mendapatkan kursi di kampus ini. Saya
telah memupuskan harapan dan impian mereka. Dan mungkin saja,
satu-satunya harapan mereka sehingga mereka berharap banyak darinya.
Tidak hanya mereka yang mendaftar tapi juga para orang tua dan
orang-orang di belakang mereka yang segenap hati mendukung mereka.

Terkadang, saya merasa tidak pantas menyandang gelar sebagai
mahasiswa STAN. Saya menyadari bahwa saya bisa kuliah gratis di sini
karena rakyat yang membiayai. Saya takut jika nanti saya lulus, saya
tidak bisa menjadi seperti apa yang mereka harapkan. Saya takut
mengecewakan mereka. Saya sadar, ketika saya memutuskan untuk kuliah di
sini, saya membawa tanggung jawab moral yang sangat besar. Konsekuensi
yang harus saya bayar dari keputusan pilihan saya. Terlebih lagi
tanggung jawab terhadap Tuhan. Tapi saya terlalu egois untuk
melaksanakannya. Saya terlalu naïf untuk mengakui bahwa saya berada di
sini dengan mengorbankan 500 orang lain di luar sana. Saya menutup mata
bahwa Tuhan menghendaki saya di sini agar saya dapat melakukan suatu
perbaikan. Bukan malah menambah kebobrokan citra kampus.

Saya sering mendengar keluhan dari para lulusan STAN tentang
ketidaksesuaian ilmu yang mereka dapat selama di kampus dengan
aplikasinya di kantor tempat mereka bekerja. Saya sungguh menyayangkan
hal ini justru terucap dari mulut mereka sendiri yang notabene adalah
para alumni STAN. Ini justru melemahkan mereka-mereka yang masih duduk
di bangku kuliah. Mereka sudah tercetak dengan pola pikir bahwa mereka
belajar 3 tahun adalah untuk suatu kesia-siaan. Ini menjadikan mereka
berperilaku seenaknya ketika mengikuti perkuliahan di kampus. Yang
penting lulus. Entah ilmu itu menempel atau tidak, itu urusan nanti.

Tapi memang, saya juga tidak mengecilkan mereka (baca: mahasiswa)
yang mencoba bersikap idealis dengan benar-benar fokus pada pelajaran.
Tapi orang-orang seperti itu hanya segelintir saja. Sungguh mengenaskan.

Jadi saya berpikir, ketika hal-hal seperti ini dibiarkan terjadi dan
tidak ada yang bertindak, di manakah pertanggungjawaban kita? Seenaknya
kita menggunakan uang rakyat hanya untuk mencetak manusia-manusia yang
tidak memihak kepada rakyat. Maka tak heran jika nantinya STAN hanya
akan mencetak manusia-manusia yang bermoral rendah yang dengan tega
merampok uang rakyat dengan dalih kekuasaan. Padahal mereka sama-sama
tahu bahwa mereka dibiayai oleh rakyat. Jadi, sudah semestinya segala
tindak-tanduk mereka merefleksikan apa-apa yang diinginkan oleh rakyat.
Kalau begini sih sama saja seperti air susu dibalas dengan air tuba.
Mending uang itu dikembalikan lagi kepada rakyat atau disubsidikan
kepada rakyat kecil yang jelas-jelas membutuhkannya. Setidaknya itu
mengurangi rasa bersalah kita terhadap rakyat dan kepada Tuhan. Masa
sih kita nggak mampu membayar lebih untuk sesuatu yang jelas-jelas kita
ambil manfaat besarnya? Tapi memang ya, saya merasa sesuatu dianggap
tidak berharga saat kita tidak berkorban apa-apa untuknya. Rasa
memiliki dan menghargai tidak ada saat sesuatu itu didapat secara
gratis atau cuma-cuma. Kalau begini, Ibu Pertiwi bisa menyesal
melahirkan pewaris-pewaris negerinya. Jadi daripada hal ini dibiarkan
saja dan menanggung dosa yang beranak-pinak, saya mulai berpikir,
bagaimana jika STAN dibubarkan saja?

*Mahasiswa Akuntansi Pemerintahan Tk II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: