Skip to content
Juni 19, 2007 / dewanggastanpbg

Jangan Tidur, Ada yang Berisik

Sebuah opini bengkel di Majalah Civitas

Oleh : Fazlurrahman

Bengkel masih berbau, dekil dan berisik saat kutinggalkan setahun
setengah yang lalu. Memang seperti itulah keadaannya, mirip sebuah
gudang serba ada, dari kaus kaki hingga sarung butut, dari jarum peniti
hingga gulungan plat film cetak. Ataupun bekas makanan, cemilan dan
remahannya dengan mudah kita jumpai di ruang ini. “d biggest rubbish
box in d stan” kata-kata ini kadang-kadang pantas dilekatkan dengan
ruang ini terutama ketika berjangkitnya “deadline syndrome”.


Satu hal yang akan mengingatkanku pada tempat ini, sebuah tulisan
yang pernah terpampang, “Jangan Tidur, Ada yang Berisik”. Sebuah
larangan bagi para makhluk didalamnya untuk tidur, dan sebuah
pemakluman bahwa ruangan ini memang berisik. Namun berisik yang
dimaksud jauh berbeda dengan noise yang ditimbulkan oleh para aktivis kampus. Yang sekadar talking,
berwacana ngalor ngidul tanpa pijakan dan kerangka sistematis untuk
bisa disebut sebagai sebuah gagasan, ide bahkan lebih jauh lagi sebuah
konsep. Berisik disini lebih diartikan sebagai speaking,
membahas peristiwa dan fenomena kemudian membahasakan dalam wujud
tulisan yang bisa dibaca oleh masyarakat kampus. Bengkel begitulah kami
menyebutnya. Ruang sempit di antara lekukan gedung G kampus STAN ini
tak lebih sebagai tempat “ngendon” lembaga pers mahasiswa, Media
Center STAN tiga tahun belakangan ini.

Bagi kami, Bengkel adalah sebuah ruang mikrokosmos untuk
merepresentasikan dinamisasi kehidupan kemahasiswaan STAN. Yakni dari
sudut pandang pers mahasiswa. Jelas bukan potret utuh kemahasiswaan
STAN, karena di luar bengkel sudah pasti terdapat berwarna-warni
pernak-pernik kemahasiswaan STAN.

Bengkel tak ubahnya “kamar gelap” tempat mermroses film menjadi
foto cetak. Lengkap dengan proses pemilihan dan pencampuran warna
sehingga tercipta imaji utuh. Hal ini tergambar dalam produk-produk
bengkel seperti dalam majalah civitas yang sedang anda baca saat ini.

Namun, bengkel tak sekadar sebagai pabrik yang rutin beroperasi dan
mengkuantifikasi hasil dari produk yang dihasilkan. Jadi bukan tanpa
cacat dan gagal. Kegagalan adalah kado terindah dari orang-orang yang
mau berusaha. “proses” sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan
hal ini. Dan ukurannya bukan kuantitas namun kualitas. Karena sejatinya
bengkel adalah tempat berproses. Yakni berproses menjadi.

Dalam bengkel, kita tidak sedang membicarakan tentang intellectual capacity,
yakni seberapa besar makhluk bengkel menguasai ilmu jurnalistik, tulis
menulis dan sebagainya. Namun kita sedang membicarakan bagaimana human capital, kemampuan untuk menjadi manusia dan memanusiakan orang lain. Disinilah terjadi proses menjadi manusia, dari human being (mempunyai potensi) menjadi being human (melakukan aktualisasi).

Proses aktualisasi ini coba kami dituangkan dalam sebuah slogan
“Mencerdaskan dan mencerahkan” motto yang secara sepihak kami
lekatkan sendiri. Lebih sebagai proses pencapaian visi pers mahasiswa
untuk berkarya dan memberi nilai tambah bagi dunia kemahasiswaan STAN
pada khususnya. Berbicara mengenai pers mahasiswa, kita akan diingatkan
dengan heroiknya sejarah pers mahasiswa.

Selain itu membicarakannya akan selalu disandingkan dengan kata
idealisme. Idealisme adalah sesuatu mengenai keyakinan. Atau lebih
tepat iman. Yakni tentang sesuatu yang diteguhkan dalam hati, diucapkan
dalam lisan dan diamalkan melalui perbuatan. Idealisme inilah yang
menjadi harta yang tidak boleh dipisahkan dari pers mahasiswa. Tanpa
idealisme, pers mahasiswa tak berarti apa-apa.

Berbicara mengenai pers mahasiswa memang tidak ada habisnya. Sarat
dengan pernak-pernik historis yang membungkusnya. Kalo tak percaya coba
saja tanya Google, ketika kita masukkan keyword “pers mahasiswa”
dalam 0,09 detik akan muncul 645 hasil untuk pencarian di Indonesia.

Pers mahasiswa, sebuah varian kata yang mengandung dua kata yang
sama-sama menempati posisi terhormat. Pers, yang selalu menempatkan
dirinya sebagai pilar keempat demokrasi dan mahasiswa pun tak mau kalah
dengan turut menempatkan dirinya sebagai pilar kelima demokrasi
(Hariman Siregar, Pilar Kelima Demokrasi).

Lantas seperti apakah gabungan di antara keduanya? Tentu sebuah
pertanyaan yang sulit di zaman sekarang. Di mana pers dan mahasiswa
saat ini tengah bergulat dengan industrialisasi yang didorong oleh
sistem kapitalisme. Pers menjadi sebuah mesin penerbitan yang lebih
menekankan oplah dan kepentingan pemilik modal. Mahasiswa pun nyaris
mengalami kebuntuan yang sama. Isu yang ditawarkan gerakan mahasiswa
pun hampir-hampir tidak mendapatkan tempat yang selayaknya di
masyarakat. Mahasiswa dicetak untuk menjadi pekerja-pekerja yang turut
akan mendukung industrialisasi. Dan mahasiswa jarang tertarik dengan
isu-isu politik yang turut menentukan arah kebijakan negara.

Namun dalam sejarahnya pers mahasiswa pernah menjadi exit entry
kebuntuan politik akibat ulah orde baru. Di mana elemen-elemen politik
mahasiswa diberangus, pers mahasiswa menjadi alat yang efektif untuk
bisa menyalurkan ide, gagasan dan konsep dalam mengkritisi
kebijakan-kebijakan pemerintah. Dan memang naluri alamiahnya, pers
mahasiswa akan selalu tergerak untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan
pemerintah ataupun kampus pada lingkup yang lebih kecil. Sebab tanpa
itu, pers mahasiswa hanya sebagai juru potret dan tukang kliping berita.

Sejarah adalah persoalan tentang dipengaruhi dan memengaruhi. Karena
pada saat yang sama, ketika sejarah memengaruhi kehidupan manusia di
dalamnya, maka pada saat itu juga sejarah juga dipengaruhi oleh manusia
di dalamnya. Proses ini akan selalu memberikan peluang untuk melakukan
perubahan-perubahan. Perubahan ini selalu memunculkan sosok-sosok yang
cerdas, kreatif dan pemberani di dalamnya. Proses ini tidaklah selalu
berjalan secara alamiah. Namun harus terus disenandungkan, digelorakan
bahkan digerakkan oleh tangan-tangan muda yang terus bergerak untuk
selalu menuntaskan perubahan.

Bengkel adalah setitik kecil dari jutaan tempat di muka bumi ini
yang akan terus menggelorakan perubahan dan perbaikan. Kecil nilainya
jika dibandingkan dengan seluruh usaha manusia untuk melakukan
perbaikan. Namun semangat yang sama akan terus digelorakan oleh para
makhluk di dalamnya. Makhluk bengkel yang hanya sebentar singgah
sebentar kemudian meninggalkannya. Beredar, entah kemana untuk memenuhi
sudut-sudut pulau di Indonesia.

Kemarin bengkel masih ada, sekarang pun masih ada. Dan tentunya
besok bengkel pun masih ada. Bukan sebatas fisik semoga bengkel masih
ada, tentunya semangat bengkelisme, semangat untuk tetap
bersemangat melakukan pencerdasan dan pencerahan kepada masyarakat
kampus STAN pada khususnya. Dan tentunya saja sekarang bengkel harus
lebih baik dari kemarin dan besok tentunya lebih baik dari hari ini.
Agar keberuntungan dan keberkahan selalu menaungi makhluk bengkel.

Bengkel begitulah dari dulu, semoga tidak.

Banda Aceh, 11 Juni 2007 01:46

  1. puhyjtqas / Apr 27 2010 9:49 am

    5zMwgK eozwpvbrjbue, [url=http://yahiaqbpbqxu.com/]yahiaqbpbqxu[/url], [link=http://oonwtnajcfvt.com/]oonwtnajcfvt[/link], http://kvjsiemttgle.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: