Skip to content
Juni 29, 2007 / dewanggastanpbg

Pseudo Post Power Syndrome

Oleh : Riki Efendi*
Saat kondisi dibutuhkan berubah menjadi perasaan terabaikan. Ketika
keterbiasaan memegang setumpuk amanah tiba-tiba menggradasi menyisakan
kelempengan waktu yang amat luang. Sewaktu kaki yang acapkali menapak
ribuan langkah berubah menjadi situasi ongkang-ongkang yang
mengenaskan. Otak yang dulu acapkali bergelut memikirkan
penyelesaian-penyelesaian dari berbagai permasalahan sekarang hanya
berputar-putar di area memikirkan masalah itu sendiri. Tanpa ada
penyelesaian.

Wacana berpikir cuma dipenuhi frase-frase ‘medan manalagi yang
kira-kira butuh saya’. Dan lebih tragisnya jika pertanyaan tentang
apakah diri masih bisa berkarya juga turut menyeruak. Sangat bisa jadi
itu gejala yang menunjukkan kalau sejenis penyakit yang tidak
terdeteksi oleh dokter manapun mulai menggerogoti semangat
produktifitas. Meranggas spontannya aksi-aksi nyata menjadi yang polah
yang meraba-raba.
Gejalanya mudah terlihat. Ia mematikan respon saraf-saraf kreatifitas.
Ia membuat lumpuh tangan-tangan yang dahulunya ringan mengerjakan
tanggungjawab sebesar gunung sekalipun. Lantas ia juga membuat
ketergangguan pada kewarasan kerja alam pikir seorang pejuang tanggung.
Dan memadamkan nyala semangat pahlawan-pahlawan yang serba bingungMemegang
kekuasaan sangat rentan melahirkan porsi perasaan dibutuhkan yang amat
signifikan besarannya dibanding porsi membutuhkan. Dan itu malah sangat
bisa membuat terlena, merasa digjaya, Dan amat pantas diberi kuasa.
Iblis adalah salah satu korban penyakit berbahaya ini. Coba sekilas
kita balik putaran hikmah sejarah yang amat lampau ketika peristiwa
pengusiran iblis terjadi. Penyebabnya tidak lain adalah ketidakmauan si
iblis mengadaptasi dirinya dengan kenyataan post power syndrome yang
dialaminya. Lantas merasa tidak akan mampu berdiri dengan status
barunya yang berada dibawah manusia. Dan yang paling penting ia merasa
disepelekan. Post power syndrome merusak aktifitas ibadahnya yang amat
luar biasa dahulunya. Serta menyimpangkan otaknya sehingga dengan
berani ia menentang Sang Pencipta yang selama ini ia sembah. Pilihan
yang memang ia pilih. Menderita sepanjang masa dengan post power
syndromenya.
Namun jangan salah, ada juga sosok yang berjaya menangkis virus post power syndrome
ini. Sebut saja seorang sahabat, Ali bin Abi Thalib. Seorang panglima
yang tanpa unggah ungguh dicopot kekuasannya untuk diberikan kepada
seorang anak yang jauh lebih muda. Namun penyikapan yang bijak, pola
pikir yang matang dan hati yang lapang mengolah kepahitan semu itu
menjadi sebuah komiten sejatinya. Ia menjadi amat bahagia dalam pilihan
hidup dengan loyalitas indahnya. Dan kemudian di posisi barunya -yang
secara kasat mata memang lebih dibawah- ia tetap mengoptimalkan
potensinya.
Mestinyalah kita menjadi pribadi-pribadi yang tidak gagap terhadap
penyakit yang memang bukan model baru ini. Tentu banyak perbaikan yang
dicapai jika setiap orang tidak terpaku terhadap sebuah tugas saja. Dan
merasa hanya itu yang bisa diperbuatnya. Dan ketika melepaskan amanah
tersebut, kreatifitasnyapun ikut-ikutan lepas. Seorang mantan gubernur
yang tidak lagi menjabat hendaknya juga tidak menjadi lepas tangan.
Salah satu aplikasi perannya bisa saja dengan bertukar gagasan dengan
gubernur yang menjabat. Tentang masalah yang acap dihadapi dan
prioritas penyelesaian masalah tersebut.
Tidak harus terlalu khawatir terjangkit penyakit ini. Karena ia hanya
mampu menjangkiti pribadi-pribadi enggan. Serta sosok-sosok oportunis
yang hanya bisa mendompleng peluang dan bukannya para inovator yang
mencipta beragam kesempatan. Post Power Syndrome amat sejoli dengan
stagnasi. Kekakuan dan kebakuan. Tipe penemu dan bukan pencari.
Sedangkan semestinya ketidakbisaan berkarya mestinya dibuang jauh-jauh
dari halaman pikir kita. Dunia tidak hanya selebar daun kelor. Bukan
hanya satu ladang yang bisa kita panen. Dan bukan hanya ladang melulu
yang bisa kita panen. Masih ada kebun, sawah dan masih banyak lagi.
Al-Qur’an menyatakan dengan gamblang bahwa semestinya istilah post
power syndrome itu tidak ada di kamus kehidupan manusia. Jika perasaan
itu pernah mampir maka sebenarnya iu hanya fenomena semu yang tidak
benar-benar ada. Simak saja tafsir ayat berikut. “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu uruan) tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain.”
Karena memang hidup adalah berjuang. Makan adalah berjuang. Minum
adalah berjuang. Mandi adalah berjuang. Kuliah adalah berjuang.
Berdagang adalah berjuang. Bertani adalah berjuang. Dan memulungpun
adalah berjuang. Yang pasti bekerja adalah berjuang. Dan jika begitu
berarti bekerjapun tiada mengenal terminal henti. Mestinya.
Tidak cukup sekedar terus bekerja keras dan menerus berkarya, malah
ditambahkan lagi dengan suatu hadist lagi yang intinya menginspirasi
kita untuk terus memperbaiki diri. Level amanah kitapun mestinya
meningkat. Kita harus selalu menapaki tangga yang menaik. Bukan yang
datar atau malah curam menurun. Bukan objeknya tapi pemaknaan terhadap
amanah itu sendiri. Dan kalau pemaknaan itu sudah menelisik syahdu di
nurani kita maka saat virus ini coba menghampiri dan aromanya terasa
mendekat segera berteriak lantang dalam hati “Saya bukan sekedar
masih bisa berguna, Saya juga bisa menjadi lebih berguna.
*Pemimpin Umum Media Center STAN 2006/2007

Dipersembahkan buat saya dan buat rekan-rekan yang takut menderita penyakit serupa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: