Skip to content
Juli 16, 2007 / dewanggastanpbg

Perang Bimbel Warnai Pendaftaran STAN

[civitas-stan.com]: Rupiah yang beterbangan di
masa pendaftaran Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tak dilewatkan
begitu saja. Selain menjual makanan, menawarkan jasa foto ataupun
menjual buku USM bisnis bimbingan belajar (bimbel) merupakan salah satu
alternatif usaha yang dipandang masih memilki prospek yang cerah. Tak
heran jika kemudian bermunculanlah beraneka bimbel yang menjajakan
jasanya.


Dari pantauan langsung di pelataran belakang gedung P, ada sekitar
18 bimbel yang mendirikan tendanya. Kedelapan belas bimbingan tersebut
memiliki latar belakang yang beraneka. Ada yang merupakan bentukan dari
organisasi kemahasiswaan, komunitas mahasiswa, organisasi kedaerahan,
ataupun jasa bimbingan belajar profesional. Pengelola bimbel biasanya
merupakan mahasiswa STAN sendiri atau para alumni. Tapi tidak semuanya
demikian. Bimbel Kelompok Diskusi Ilmiah (KDI) misalnya, dari lima
orang anggotanya hanya satu orang yang merupakan mahasiswa STAN.
Selebihnya adalah mahasiswa yang berasal dari kampus lain di sekitar
Jurangmangu.

Modal awal dan Keuntungan
Saat ditanya berapa modal awal yang dibutuhkan, beberapa pengelola
menyebutkan nominal yang berbeda. “Sampai dengan hari ini sekitar 500
ribu,” demikian keterangan Bobby Savero dari Educatioon Center. Ada
juga yang menyebutkan nominal 1,5 juta sampai dengan 5 juta. Modal awal
tersebut biasanya hanya mencakup biaya untuk mendirikan tenda, mencetak
brosur, serta menyediakan tempat.
Untuk tempat, beberapa bimbel bekerja sama dengan bimbel profesional
yang sudah memiliki tempat tetap. Seperti Paseduluran Priyayi Solo
(Paspilo) yang bekerja sama dengan SSC atau KDI yang menggunakan gedung
Primagama.
Lantas berapa hasil yang mereka peroleh? “Tahun lalu dengan satu
kelas sekitar 5 juta,” jelas Imawati dari KDI. Sedangkan BMC yang
masih memegang rekor peserta terbanyak, tahun ini berekspektasi
mendapat keuntungan sekitar 30 juta.

Strategi Pemasaran
Menjajakan produk yang sama (meski tak serupa) di tempat yang sama pula
menyebabkan persaingan menjadi hal yang tak terelakkan. Namun pengelola
bimbel yang diwawancarai sebagian besar mengaku tidak bermasalah dengan
hal ini. “Kalau rezeki tidak akan lari ke mana,” demikian komentar
salah satu awak Paspilo yang tak mau disebut namanya.
Strategi pemasaran yang dijalankan pun tak jauh berbeda. Ada beberapa
cara yang digunakan, salah satunya menjadikan tenda sebagai posko
informasi yang melayani para calon
pendaftar. Informasi yang diberikan meliputi syarat pendaftaran hingga
hal-hal lain yang berkaitan dengan STAN. Dari pemberian informasi
inilah kemudian diselipkan bujukan untuk mengikuti bimbel tersebut.
Selain cara di atas, penyebaran brosur masih menjadi alternatif yang
cukup diminati. Dan targetnya tak hanya calon pendaftar saja, orang tua
yang sedang menunggui anaknya pun menjadi sasaran empuk rayuan tim
marketing. Berawal dari obrolan ringan yang kemudian berbuntut pada
penawaran.
Dari bimbel yang Civitas temui, Bina Muslim Cendikia tergolong memiliki
strategi pemasaran yang agak berbeda. Dari segi waktu misalnya,
kebanyakan memulai pemasaran selang satu minggu sampai dengan satu hari
sebelum pendaftaran STAN dibuka, sedang BMC sudah mulai bergerak dari
awal April. Pemasaran mereka pun tak hanya di lokasi STAN saja,
melainkan dengan penyebaran informasi ke sekolah-sekolah di Jakarta.

Nilai Jual
Brand tak bisa dipungkiri menjadi nilai jual yang cukup ampuh dalam
memasarkan produk. BMC menjadi bukti nyata. Saat bimbel lain baru
mendapat peserta dari kisaran 15 sampai dengan 40 orang, BMC telah
menggaet 16 kelas dengan jumlah peserta 20 s.d 25 orang setiap
kelasnya, belum lagi cabang BMC di Depok yang telah mendapat peserta
tiga kelas.
Keandalan nama besar menyebabkan beberapa bimbel melakukan kolaborasi
dengan bimbel profesional. Seperti Paspilo yang bekerja sama dengan SSC
ataupun Super Intensif yang berkolaborasi dengan BBI (Bimbingan Belajar
UI).

Kerja untuk sosial
Lain halnya dengan beberapa bimbel yang mendulang rupiah semata-mata
untuk kepentingan pribadi, Paspilo menjadikan ajang bimbel sebagai
sarana pengumpulan dana sosial. Hal ini berawal dari pendirian Paspilo
Foundation pada Januari 2006 yang mengemban misi untuk menagdakan
kegiatan sosial. Seperti bantuan untuk korban gempa Yogya, pembuatan
taman bacaan gratis untuk anak-anak di daerah Klaten, dan yang terkini
program adik asuh. Mulanya kegiatan ini didanai sumbangan anggotanya,
tetapi kemudian muncul ide membuat bimbel sebagai sarana fund rising.
Karenanya keseluruhan hasil bimbel tersebut rencananya akan disalurkan
untuk program adik asuh serta program Paspilo yang lain. “Modal
awalnya dari para alumni,” jelas salah satu anggotanya. Tempat dan nama
bekerja sama dengan SSC, sedangkan urusan manajemen sampai proses
mengajar dilakukan secara mandiri. Untuk pengajarnya berasal dari
internal Paspilo yang bersedia mengajar tanpa dibayar. “Mereka
(pengajar-red) hanya mendapat uang transpor, yang jumlahnya sangat
kecil sehingga tidak tega untuk menyebutnya gaji,” lanjutnya lagi.
Sampai saat ini sudah ada 40 orang peserta. “Target kami seratus
orang, tapi kapasitas tempatnya ada 120 orang. Tapi tidak ngoyo, saya
menekankan pada teman-teman tujuannya untuk membantu.”
[Diana Rachmawati]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: