Skip to content
Juli 28, 2007 / dewanggastanpbg

Civitas Road to Piala Asia 2007

[civitas-stan.com] : Fase penyisihan grup telah
memasuki bagian akhir. 18 Juli 2007, partai Indonesia-Korea Selatan
menjadi partai pamungkas di grup D. Yang juga menjadi pertanda akhir
perjalanan Koran Civitas di Piala Asia 2007.


 Kali ini Koran Civitas melakukan perjalanan bersama ratusan
mahasiswa STAN lainnya. Menumpangi empat unit kopaja 613, bersama-sama
kami berangkat ke Gelora Bung Karno (GBK) tepat pukul 15.10 WIB.
Perjalanan menuju GBK terasa sepi di dalam kopaja. Sejumlah mahasiswa
terlihat sedang tidur, melihat jauh ke luar jendela kopaja, dan
beberapa lainnya berbincang seputar peluang Indonesia pada Piala Asia
2007.

Memasuki kawasan Pondok Indah, saat dua mikrolet rombongan Jakmania
melintas di samping kopaja rombongan Mahasiswa STAN. Gerah melihat
mahasiswa STAN yang adem ayem di dalam kopaja, seorang
Jakmania menggedor-gedor tubuh kopaja 613 yang sudah reot. Seorang
lainnya mengayunkan tangannya ke atas seraya berkata “Ayo naik!”.
Melihat tingkah Jakmania, mahasiswa STAN hanya dapat tersenyum, tanpa
perlu mengindahkan seruan mereka untuk naik ke atas kopaja. Meski
beberapa mahasiswa terlihat takjub dengan keberanian Jakmania duduk
memenuhi atap mikrolet.
Kopaja telah melewati Jalan Pakubuwono saat didepannya mikrolet
rombongan Jakmania dihentikan polisi. Puluhan Jakmania yang berada di
atas atap mikrolet disuruh turun, dan harus berjalan kaki ke GBK.
Pertanda bahwa GBK akan dicapai dalam hitungan detik lagi.
Lima menit belum berlalu dari insiden dipaksa turunnya Jakmania, saat
puluhan ribu pendukung Tim Garuda terlihat menyesaki kawasan GBK. Satu
jam lagi pertandingan akan dimulai. Empat unit kopaja 613 akhirnya
menepi di sudut rindang Parkir Timur Senayan.

Layar Lebar

Lagu kebangsaan Indonesia Raya terdengar menggelegar di luar stadion
saat waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB. Ribuan penonton yang tidak
kebagian tiket turut larut dalam rasa nasionalisme yang kental dalam
lagu itu. Dengan penuh penjiwaan seorang pria terlihat mengacungkan
tangannya ke langit, matanya menatap Stadion Utama GBK yang kokoh,
serasa jiwanya sedang bersama puluhan ribu lainnya di dalam sana.


Sayang, kesan “Indonesia Unity” yang dibangun pria itu rusak oleh
perilaku kotor saudara sebangsanya yang lain. Beberapa orang yang
kecewa karena tidak mendapat tiket berusaha mendobrak pagar penghalang
menuju GBK. Beruntung hal itu dapat diatasi setelah belasan anjing
herder dikerahkan untuk menakuti mereka.


Ribuan penonton lain, yang mampu mengendalikan emosi karena tidak
kebagian tiket, pergi menuju Parkir Timur (Parkit) Senayan. Disana,
telah terpasang dua unit layar lebar yang menyiarkan secara langsung
pertandingan di dalam stadion.


Walaupun begitu, masih saja terlihat beberapa penonton terlihat berlari
dengan gegas ke arah stadion. “Disana masih ada yang dua lima” ucap
seorang diantaranya seraya menunjuk ke arah gerbang keenam GBK.


Sebagian lain mengacuhkan kata-katanya, pertandingan telah berjalan 30
menit, sayang jika harus mengeluarkan Rp.25.000,-.Parkit telah penuh
sesak sejak pukul 18.00. Ribuan orang telah duduk di lahan kosong depan
dua layar lebar yang menayangkan pertandingan sore itu. Sesekali
terdengar teguran “Oi, duduk!” saat ada penonton yang berdiri atau
saat para pedagang asongan dengan asyiknya menawarkan dagangannya,
hingga menghalangi pandangan penonton ke layar.


Tak ada
mexican wave dan
yel-yel yang dinyanyikan dengan kompak. Sebagian besar penonton di
Parkit Senayan menyaksikan pertandingan dalam bisu, hanya nyanyian
sekelompok anak kecil yang terdengar meramaikan suasana. Ditambah
dengan kedudukan 1-0 untuk Korea Selatan, senja di tengah kota
metropolitan ini terasa begitu dingin, dan membisukan.


Lima menit sebelum pertandingan usai, ribuan penonton mulai
meninggalkan stadion. Berbagai macam ungkapan kekecewaan mereka
katakan, bahkan terdengar seorang pendukung menyalahkan kehadiran
Presiden Republik Indonesia di GBK. “Ah, gara-gara SBY nonton sih.
Makanya kalah!” ucapnya.


Kepulangan Koran Civitas bersama mahasiswa STAN ke Jurangmangu sama
heningnya dengan saat keberangkatan, bahkan lebih. Entah karena malam
sudah larut atau karena tersingkirnya Indonesia. Perjalanan Koran
Civitas di Piala Asia 2007 pun berakhir bersama dengan berhentinya
kopaja 613 di ujung Jalan Pisok, Bintaro.

[Vigor Arya DJ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: