Skip to content
Juli 30, 2007 / dewanggastanpbg

STAN : Setelah Tamat Akad Nikah ?

[civitas-stan.com]: Meski
peraturan kemahasiswaan melarang untuk melakukannya selama pendidikan,
pernikahan mungkin merupakan topik yang paling menarik di kampus ini.
Hal ini dibuktikan dengan tingginya animo mahasiswa terhadap Seminar
Pernikahan.


 Minggu (15/7), aula Gedung B STAN dipadati dengan ratusan
laki-laki dan perempuan, lengkap dengan panggung yang di-setting
layaknya sebuah pelaminan serta konsep ruangan yang memang cocok untuk
resepsi pernikahan. Tampak beberapa orang sedang membicarakan satu tema
yang merujuk ke sebuah kata yakni pernikahan.
Acara yang bertemakan “bekali diri, mantapkan hati, menjemput teman
sejati” diselenggarakan oleh Deputi Dakwah Masjid Baitul Maal (MBM)
ini dihadiri oleh tiga pembicara yang kompeten di bidangnya. Mereka
adalah Agus Priyono, lulusan Universitas Kebangsaan Malaysia, yang
mengupas pernikahan dari sisi syariah. Banu Muhammad, dosen Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, yang membahas pernikahan dari sisi
ekonomi, serta Wulansari, pengurus Yayasan Kita dan Buah Hati, yang
membicarakan pentingnya menikah dari sisi psikologi.
Agus Priyono memaparkan bahwa menikah tidak hanya memenuhi kebutuhan
biologis atau hasrat yang meluap saja. Lebih dari itu, Agus menjelaskan
bahwa menikah itu diwajibkan dan memiliki beberapa tujuan, diantaranya
adalah bagian dari ibadah karena belum sempurna ibadah seseorang
sebelum dia menikah, saling mengisi dan mengenal, dan melahirkan
ketenangan jiwa.
Dari segi ekonomi, Banu membekali para peserta mengenai biaya-biaya
yang dibutuhkan terkait dengan pernikahan. Mulai dari komponen biaya
pra nikah, hari pernikahan, dan pasca nikah. “Hanya dengan biaya 500
ribu pun kita sudah dapat menikah”, ujarnya.
Terkait dengan biaya hari pernikahan yang paling krusial yaitu mahar
(mas kawin-red), Banu memberikan komentar. “Perempuan yang paling
baik adalah perempuan yang dapat menerima mahar seberapa besarpun itu,
sedangkan kebanggaan lelaki adalah mampu menanggung seluruh biaya
pernikahan beserta mahar yang baik”.
Sedangkan Wulansari membekali peserta pentingnya menikah dari sisi
psikologi, mulai dari bagaimana kriteria calon pasangan sampai
bagaimana membangun keluarga yang sakinah, mawadah, warrahmah.
Urgensi Seminar Pernikahan
Ketika ditanya mengapa mengadakan acara semacam ini untuk
mahasiswa STAN, Arif Setyawan, selaku Koordinator Pelaksana (Korlak)
mengungkapkan bahwa seminar ini dihadirkan untuk menyikapi fenomena
banyaknya mahasiswa STAN yang setelah lulus langsung menikah. “Di
STAN itu kan ada fenomena kalau habis lulus itu nikah, jadi kita
memfasilitasi mahasiswa dengan seminar yang aplikasinya dapat
dipergunakan oleh mahasiswa STAN pada umumnya.”
“Saya sudah berencana untuk nikah muda kira-kira umur 21 tahun, jadi
ketika ada seminar tentang pernikahan, ya sangat sayang untuk saya
tinggalkan.” ujar Umar Ibnu Wahid, salah satu peserta yang merupakan
salah satu siswa SMA 86.
Hal senada juga dilontarkan oleh Kusnan Hidayat, mahasiswa tingkat I
Akuntansi. “Acara ini penting selain nambah ilmu sekalian persiapan
buat nikah nanti. Acara ini penting buat tingkat III karena sudah jadi
CPNS dan biar siap ketika mau nikah nanti, tapi untuk tingkat I dan II
tidak begitu penting karena kesempatan untuk Drop Out (DO) masih
mungkin terjadi.” ujarnya.
Komentar pun datang dari beberapa calon mahasiswa, salah satunya adalah
Zia. “Aneh, bukannya di STAN nggak boleh nikah?, tapi wajar sih,
apalagi perempuan setelah lulus inginnya kan cepat nikah, lagian kenapa
nggak, selama masih bermanfaat.” ungkapnya saat melihat spanduk
tentang seminar tersebut.
Berbeda dengan pendapat kebanyakan para peserta seminar, Octavia Esther
Pangaribuan, dosen Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) STAN mengatakan
kegiatan seperti ini tidak terlalu penting untuk mahasiswa STAN.
“Acara seperti ini (Seminar Pernikahan-red) tidak begitu penting
untuk mahasiswa STAN, yang dibutuhkan oleh mahasiswa STAN adalah
seminar yang berhubungan dengan dunia pekerjaan yang akan bermanfaat
nantinya ketika bekerja. Contohnya, untuk Spesialisasi Kebendaharaan
Negara seharusnya diberikan seminar mengenai Akuntansi Pemerintah yang
jelas bermanfaat ketika mereka bekerja nanti.” Ujarnya.
Menanggapi pendapat tersebut, Arif Setyawan mengatakan. “Itu
(pendapat dosen-red) juga tidaklah salah tapi, masing-masing elemen
itukan sudah ada ruang lingkupnya, kalau untuk acara seminar terkait
dunia pekerjaan, mungkin akan lebih tepat jika itu diadakan oleh
Himpunan Mahasiswa Spesialisasi (HMS) masing-masing. Misalnya untuk
Kebendaharaan Negara ada Fokma, untuk Administrasi Perpajakan ada IMP,
begitupun dengan spesialisasi yang lain.”
[Muhammad Ishak]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: