Skip to content
September 14, 2007 / dewanggastanpbg

Mengintip Cash Flow dan Pilihan Manajemen Keuangan Mahasiswa Baru Dengan Kacamata Iuran Kemahasiswaan

Oleh: Wirawan Purwa Yuwana*
Pendahuluan
Kegembiraan lulus ujian saringan masuk STAN tentu masih terasa hangat-hangat tai
ayam bagi mahasiswa baru. Lulus USM STAN telah memberikan pilihan
kuliah. Ada yang memilih kuliah di PTN, PTS, atau PTK yang lain. STAN
memang hanya salah satu pilihan. Kuliah gratis dan kemungkinan besar
dapat langsung bekerja di lingkungan pemerintahan mungkin bisa menjadi
alasan memilih STAN. Pilihan kuliah di STAN yang gratis, namun tetap
saja hidup di lingkungan kampus STAN mengikuti pepatah jawa “jer basuki mawa bea”.

Pengeluaran Kas Mahasiswa Baru
Tidak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa STAN mayoritas berasal dari luar
Jabotabek. Kondisi ini menuntut adanya berbagai pengeluaran kas oleh
mahasiswa baru. Pengeluaran itu paling tidak untuk membeli pakaian
kuliah (terang-gelap), biaya transportasi menuju Jurangmangu, biaya
kos, dan membayar iuran kemahasiswaan. Setidaknya mahasiswa baru harus
mengeluarkan kas sebesar Rp.3.500.000,00, dengan rincian sebagai
berikut: membeli dua pasang pakaian kuliah Rp.200.000,00, beban
transportasi Rp.100.000,00 (asumsi dari Jawa Timur dengan kereta api
kelas ekonomi), biaya kos setahun Rp.2.500.000,00 (asumsi rata-rata),
dan iuran kemahasiswaan Rp.700.000,00 (asumsi D III). Namun tulisan ini
tidak membahas tiga pengeluaran kas yang pertama, karena diasumsikan
bahwa biaya itu adalah biaya minimum yang harus ditanggung mahasiswa
baru pada awal kedatangannya di STAN.

Apabila dilihat besarannya nilai iuran kemahasiswaan memiliki porsi
20% dari asumsi total pengeluaran kas. Mahasiswa yang pernah belajar
akuntansi pasti mengenal prinsip materialitas. Tentu nilai
Rp.700.000,00 itu sangat material karena memiliki porsi 20%. Padahal
uang itu sebenarnya bukan biaya yang wajib dikeluarkan mahasiswa baru
untuk memenuhi kebutuhan primernya. Hanya saja SK Presma STAN Nomor :
006/SK/BEM-STAN/VIII/2007 telah menjadikan uang itu wajib bagi
mahasiswa baru. Dari kacamata mahasiswa baru, SK yang terbit tanpa
konsiderans (klausul mengingat, menimbang, dsb) itu tiba-tiba saja
mewajibkan membayar iuran kemahasiswaan. Wajar jika ada pandangan bahwa
SK tersebut adalah aturan yang tidak jelas dasar penerbitannya. Aturan
tidak jelas itu mengakibatkan cash outflow Rp.700.000,00 bagi mahasiswa
baru.

Iuran kemahasiswaan vs Pilihan Manajemen Keuangan
Jika dikira-kira berdasarkan rincian penggunaannya, mayoritas iuran
kemahasiswaan itu digunakan untuk menghidupi organisasi kampus,
katakanlah BEM, BLM, MEDIA dan Lebaga Keagamaan. Adapun yang dapat
dinikmati langsung oleh mahasiswa baru hanya sebesar Rp.106.000,00 (jas
almamater, kaos, jaminan sosial dan pengabdian masyarakat). Bagaimana
dengan DINAMIKA? Menurut penulis DINAMIKA itu bukan kewajiban bagi
mahasiswa baru. DINAMIKA tidak berpengaruh pada tujuan utama ada di
STAN, yaitu mengikuti proses perkuliahan. Adalah alasan yang
mengada-ada jika DINAMIKA itu diwajibkan bagi mahasiswa baru.

Apabila dianalisis berdasarkan rincian penggunaannya iuran
kemahasiswaan itu dapat diketahui bahwa penerbit SK tersebut begitu
pandai mengelabuhi mahasiswa baru. Iuran PEMIRA, biaya daftar ulang,
dan dana sarana prasarana sebenarnya adalah sunk cost (biaya yang tidak
dapat dihindari) bagi organisasi mahasiswa yang berkepentingan. Namun
penerbit SK dengan pandainya telah membebankan kepada mahasiswa baru.
Pantas dikatakan mengelabuhi karena sebenarnya biaya itu bukan biaya
relevan bagi mahasiswa baru.

Selanjutnya, sangat wajar jika mahasiswa baru (atau orang tuanya)
bertanya “apa yang akan saya dapatkan dari membayar iuran
kemahasiswaan?”. Pertanyaan ini akan mudah dijawab dengan membuat
perbandingan perhitungan time value of money. Logika time value of
money memberikan dasar bahwa nilai sekarang dari sejumlah uang itu
lebih berharga daripada nilai uang pada masa yang akan datang.
Selanjutnya untuk keperluan perbandingan perhitungan time value of
money, penulis menggunakan analisis net present value (NPV) dan
internal rate of return (IRR). Dasar perbandingan ini menggunakan nilai
biaya yang dapat ditangguhkan (deferred) selama masa kuliah tiga tahun,
meliputi iuran BEM, BLM, HMS, Lembaga Keagamaan, dan Media, dengan
total Rp.374.000,00. Adapun objek perbandingan secara umum dibedakan
menjadi tiga yaitu:

  1. Mahasiswa baru membayar iuran kemahasiswaan;
  2. Mahasiswa baru tidak membayar iuran kemahasiswaan, lantas menabung (mendepositokan) uang itu;
  3. Mahasiswa baru tidak membayar iuran kemahasiswaan, lantas menggunakan uang itu untuk biaya mengajar privat.

Apabila mahasiswa baru memutuskan untuk membayar iuran
kemahasiswaan, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Uang
sebesar Rp.374.000,00 tersebut diasumsikan sebagai initial outlay.
Selanjutnya untuk memperoleh cash inflow selama masa kuliah, mahasiswa
harus mengikuti kegiatan kemahasiswaan agar mendapatkan reward. Dengan
asumsi reward yang diterima mahasiswa baru sebesar 20% dari initial
outlay dan merata setiap semester selama masa kuliah maka dapat
diketahui bahwa cash inflow setiap semester sebasar Rp.74.800,00. Dari
data tersebut dapat dihitung NPV berdasarkan asumsi rate of return
senilai rata-rata JIBOR (Jakarta Inter Bank Overnight Rate) pada tahun
2006 yaitu 12,276% per tahun . Hasil perhitungan menunjukkan NPV
sebesar (-)Rp.7.323,09 dan IRR sebesar 5,472% per semester atau 10,944%
per tahun.

Apabila mahasiswa baru memilih untuk menabung (mendepositokan)
uangnya, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Asumsi yang
sama dengan pilihan pertama, bahwa uang sebesar Rp.374.000,00 tersebut
dianggap sebagai initial outlay. Selanjutnya cash inflow yang akan
didapatkan sebesar proporsi pokok initial outlay dibagi enam semester
(senilai Rp.62.333,33) ditambah dengan bunga yang didapatkan. Dengan
rate of return yang sama, didapatkan NPV sebesar nol dan IRR dengan
nilai yang sama dengan rate of return yaitu 12,276%.

Mahasiswa baru juga memiliki pilihan untuk memutuskan menggunakan
Rp.374.000,00 sebagai modal untuk mengajar privat. Asumsi konservatif
untuk membagi modal ini yaitu dengan mempertimbangkan bahwa modal
tersebut dimanfaatkan selama enam semester, dan setiap semester
digunakan untuk mengajar sebanyak enam kali. Jadi proporsi biaya setiap
mengajar privat adalah Rp.10,388,89 (senilai Rp.374.000,00 ÷ 6
semester ÷ 6 kali mengajar). Berdasarkan keterangan yang diperoleh
penulis, pendapatan mahasiswa untuk sekali mengajar privat rata-rata
sebesar Rp.35.000,00. Dengan demikian setiap enam kali mengajar,
mahasiswa akan mendapatkan cash inflow sebesar Rp.210.000,00. Dari data
tersebut dapat diperoleh NPV sejumlah Rp.616.347,68 dan IRR sebesar
103,015%.
Secara lebih ringkas perbandingan ketiga pilihan tersebut disajikan dalam tabel berikut:

Pilihan 1
Pilihan 2
Pilihan 3
Initial Outlay
(374.000)
(374.000)
(374.000)
Cash Inflow Semester 1
74.800
85.289,14
210.000
Cash Inflow Semester 2
74.800
81.463,17
210.000
Cash Inflow Semester 3
74.800
77.637,21
210.000
Cash Inflow Semester 4
74.800
73.811,24
210.000
Cash Inflow Semester 5
74.800
69.985,27
210.000
Cash Inflow Semester 6
74.800
66.159,30
210.000
NPV
(7.323,09)
(0,00)
616.347,68
IRR per Semester
5,472%
6,138%
51,507%
IRR per Tahun
10,944%
12,276%
103,015%
Expected Rate of Return per tahun (asumsi JIBOR)
12,276%
12,276%
12,276%

Dengan tabel perbandingan tersebut, mahasiswa baru dapat mengambil
keputusan. Adapun kaidah pengambilan keputusan dengan analisis NPV
adalah menghindari NPV yang bernilai negatif. Sedangkan pengambilan
keputusan berdasarkan IRR adalah menghindari IRR yang bernilai dibawah
expected rate of return.
Analisis NPV dan IRR ini memang terkesan hanya bermain-main dengan
angka cash flow. Bahkan boleh dikatakan terlalu perhitungan dengan
penilaian semata-mata uang. Namun justru itulah letak kelebihan
mahasiswa yang mempelajari ekonomi dan akuntansi. Menteri Keuangan, Sri
Mulyani Indrawati, bahkan secara tegas mengatakan dalam kunjungannya ke
STAN bahwa menjadi mahasiswa yang belajar akuntansi memang harus
perhitungan sehingga tidak sembrono dalam mengambil keputusan.

Jenuh Bicara Korupsi
Opini ini merupakan tulisan kedua bagi penulis dalam menyikapi fenomena
iuran kemahasiswaan. Opini yang pertama, “Fraud Pada Organisasi
Mahasiswa”, dimuat Koran Civitas Edisi November 2006. Pada opini
pertama tersebut penulis mengkritisi bahwa iuran kemahasiswaan
merupakan salah satu bentuk economic extortion. Setelah setahun
berlalu, fenomena iuran kemahasiswaan rupanya masih belum berpihak
kepada mahasiswa baru. Economic extortion itu masih terjadi. Dengan
kata lain, fenomena pemalakan (baca: korupsi) itu masih berlangsung di
lingkungan mahasiswa STAN. Penulis sendiri seolah jenuh membicarakan
bentuk pemalakan itu. Konsep pemaparan teori korupsi seolah masih
menjadi bahasan langitan yang kurang membumi.

Oleh karena itu opini ini lebih membahas berdasarkan tataran teknis
akademik. Dengan harapan ada wacana permulaan bagi mahasiswa baru.
Bahwa di STAN belajar akuntansi dan manajemen keuangan tidak hanya
untuk meraih indeks prestasi tinggi. Selain itu juga berharap agar
mahasiswa yang pernah mempelajari akuntansi dan manajemen keuangan
membuka ingatannya kembali. Hanya mengingat kembali jika tidak mau
dikatakan munafik terhadap ilmu yang pernah dipelajari.

Penutup
Setiap kekuasaan sejatinya bisa melihat, mendengar, atau membaca suatu
korban lewat pelbagai media. Begitu tulis Rieke Diah Pitaloka pada
Kompas edisi Sabtu,1 September 2007. Maka demikian pula tujuan tulisan
ini. Agar penentu kebijakan iuran kemahasiswaan itu mau dan mampu
melihat, mendengar, dan membaca tanggungan beban mahasiswa baru. Dan
penulis percaya bahwa sebenarnya penentu kebijakan itu sebenarnya bukan
tipe mahasiswa yang munafik terhadap ilmu yang pernah dipelajari.

*Penulis adalah Mahasiswa DIV Semester VII STAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: