Skip to content
Oktober 6, 2007 / dewanggastanpbg

Dua Sisi Mata Uang Remunerasi Departemen Keuangan

Remunerasi Departemen Keuangan tahun 2007 ini
membawa angin segar dan angin topan. Bagai dua sisi mata uang yang
saling berlawanan.


Angin segar bagi pegawai Depkeu dan angin topan bagi STAN. Kenapa
hal itu terjadi? Seperti diberitakan, seluruh pegawai Depkeu mulai 1
Juli 2007 menerima kenaikan tunjangan khusus pembinaan keuangan negara
(TKPKN) yang nilainya bervariasi, mulai Rpl.330.000 per bulan untuk
golongan terendah hingga Rp46,95 juta per bulan untuk eselon satu
tertentu.

Remunerasi pada dasarnya bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dengan meningkatkan
kualitas penggajian pada pegawainya. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh
begitu kerasnya kerja Depkeu untuk menyuplai uang untuk kas Negara,
namun tidak adanya timbal balik yang sepadan pada pencari nafkah Negara
ini.

Tanggung jawab yang besar muncul saat Gaji Dan Tunjangan
membaik. Tanggung jawab untuk membenahi Negara dibidang keuangan dan
mengurangi tingkat korupsi. Kalau boleh mengutip kalimat Sri Mulyani,
Menkeu RI saat wisuda STAN 2006 “Tujuan gajinya gede itu biar tidak
korupsi,kalo masih korupsi juga memang moralnya saja yang sudah bobrok”.

Mengapa angin topan bagi STAN?

STAN sendiri minim dosen asli. Jumlahnya hanya 40 orang. Keminiman
ini membuat STAN harus merekrut dosen yang berasal dari instansi lain.
Misal dosen pajak harus outsourcing dari DJP.

Dalam pola remunerasi ke depan, pola penggajian akan berdasarkan
kinerja pegawai terhadap TuPokSi-nya (Tugas Pokok dan Fungsi).
Renumerasi ini menuntut kerja maksimal setiap elemen depkeu. Setiap
elemennya harus mentaati TuPokSi masing-masing bidang. Kalo pajak ya
ngurusin pajak doank, gak yang laen-laen.

TKPKN (Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara) yang diberikan
pun sesuai dengan tingkat pengabdian seseorang. Kalo sering bolos dan
gak ngelaksanain tugasnya ya siap-siap aja “dipotong”.

Mengapa STAN terkena dampaknya? Selama ini dosen STAN yang mengampu
mata kuliah tertentu disuplai langsung oleh instansi terkait. Misal
mata kuliah PPN hanya bisa dipenuhi oleh dosen Pusdiklat Pajak atau
pegawai DJP. Dengan adanya renumerasi ini membuat mereka tidak
sefleksibel dulu. Mereka akan lebih memprioritaskan pekerjaan mereka
daripada mengajar. Ini bukan bicara sudi atau tidak mengabdi pada
almamater. Namun, sangat manusiawi ketika seseorang melihat mengajar
adalah sebuah ganjalan untuk memenuhi kewajibannya. Kewajiban yang
menghasilkan uang. Dengan banyaknya jam mengajar, seorang pegawai akan
cenderung mementingkan pekerjaannya daripada mengajar. Karena dengan
tidak bekerja pada instansi yang menggajinya maka dia tidak akan
mendapat penghasilan.

Mengutip kata-kata seorang petinggi STAN, “Bisa aja malah gak
dikasih honor, karena itu memang bukan kerjaanya dia”. Begitulah
kira-kira ketika ada pertanyaan tentang suplai dosen dari instansi
lingkungan DepKeu.

Kalau mau ditelisik lebih jauh, kebijakan ini membuat STAN sulit
mencari dosen di masa yang akan datang. Bayangkan saja, seharian
cuap-cuap di depan kelas, udah ninggalin kantor, dipotong
TKPKN-nya,masih gratis pula alias gak dapat honor ngajar. Makin susah
tentunya kan.

Pendidikan di STAN yang terkesan stagnan ini akan makin hancur
ketika tidak ada dosen yang berkualitas. Padahal sekarang saja sudah
sebegitu apatisnya mahasiswa terhadap kualitas pendidikan di STAN.
Kurikulum gonta-ganti ya monggo, yang penting lulus. Mau gak ngajar full juga monggo asal baik kalo ngasih nilai.

Seperti sebuah bom waktu yang hanya tinggal menunggu sang eksekutor menarik pemicunya untuk kemudian meluluhlantakkan semuanya. (Muhammad Rifqi K)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: