Skip to content
Desember 2, 2007 / dewanggastanpbg

Tidak Ada Pledoi Untuk Diskriminasi

Oleh: Aulia Rahimi
Tak ada satupun manusia yang ingin lahir cacat dan berpenyakit. Tapi
apalah daya, ketika seorang bayi menyapa pertama kali dunianya, yang ia
temui adalah wajah – wajah belas kasihan juga jijik melihat dirinya.
Saat waktu menumbuhkannya, barulah ia tahu bahwa perlakuan – perlakuan
berbeda yang ia terima selama ini berujung pada satu alasan. Lara
terkena HIV+, virus mematikan yang masih dianggap sebagai kutukan Tuhan

Tak akan habis rasanya jika kita bicara
tentang HIV dan pernak – perniknya. Ada perilaku asusila yang melekat.
Ada penularan genetis yang seolah menjadi dosa warisan kepada anak yang
tertular orangtuanya. Ada keironisan para istri yang mendapatkan
penyakit ini dari suami yang dicintainya. Ada penyelesaian masalah
dengan masalah baru ketika orang yang membutuhkan tranfusi darah namun
ternyata darah tersebut mengandung virus ini. Dan yang tak pernah surut
adalah pendiskreditan dan diskriminasi tragis yang diterima oleh
pengidapnya. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Masyarakat kita belum dewasa. Entah karena mindset atau memang
pengetahuan dan informasi akan masalah ini masih awam. Sehingga yang
terjadi kepada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) adalah penggeneralisasian
bahwa penyakit yang mereka idap berasal dari satu alasan. Yaitu karena
perilaku asusila.

Jadi kesakitan yang diderita oleh pengidapnya dianggap wajar bahkan
sudah selayaknya mereka terima akibat perilaku mereka di masa lalu.
Akibatnya, muncul stigma negatif yang terpatri bahwa, AIDS bukan hanya
penyakit mematikan yang sebenarnya tidak lebih ganas dari pada kanker,
tumor, dan jantung. Tapi AIDS adalah penyakit asusila. Maka
diskriminasi pun kemudian mengalir. Dengan justifikasi, bahkan
terkonstitusi.

Mari kita analisis diskriminasi ini lebih dekat. Seharusnya yang
perlu kita hentikan adalah proses awal diskriminasi. Sama halnya dengan
penanggulangan AIDS sendiri, preventif selalu lebih efektif dibanding
represif. Segala diskriminasi, selalu berawal dari pikiran.

Mari kita berpikir sejenak. Bolehlah kita datang dalam acara – acara
simpati terhadap ODHA. Mengatakan bahwa kita orang intelektual yang
tahu bahwa AIDS hanya menular lewat empat cara, yaitu hubungan seks,
transfusi darah, jarum suntik dan penularan janin lewat ibunya.

Tapi, saat kita berkenalan ODHA, maukah kita diajak bersalaman?
Berbagi gelas, piring, dan sendok bersama? Memakai baju – bajunya?
Maukah kita tinggal serumah? Katakanlah kita mau melakukannya, namun
pasti ada sejumput keraguan di benak. Inilah yang perlu menjadi
perhatian. Bahwa diskriminasi pikiranlah yang mengilhami sebuah
tindakan.

Sudahkah STAN bersih dari diskriminasi pikiran?
Diskriminasi ini sebenarnya bukan hanya termiliki oleh ODHA. Banyak
ruang di pikiran kita untuk selalu melakukan diskriminasi terhadap
segala sesuatu. Yang terkadang kita lakukan tanpa sadar. Kadang selalu
ada judgement awal
yang tidak beralasan. Di lingkungan kampus ini saja misalnya. Masih
banyak orang – orang yang terjebak di pemikiran jahiliyah.

Contoh saja, saat kita berinteraksi dengan satu komunitas, kita
sering memetakan orang karena daerah asalnya atau sukunya. Jawa –
bukan Jawa, Sumatera – bukan Sumatera, dan lainnya. Yang kemudian
menjadi dasar generalisasi watak dan sifat. Begitu juga saat proses
daftar ulang STAN. Uang kemahasiswaan yang sejatinya belum jelas
dasarnya itu, samar – samar oleh beberapa pihak dianggap sebagai
diskriminasi terhadap mahasiswa yang kurang mampu. Seolah – olah, ada
komersialisasi pendidikan.

Contoh lain adalah adanya stigma negatif terhadap acara – acara BEM,
yang seharusnya tidak serta – merta dianggap membosankan. Mahasiswa
seharusnya melihat secara obyektif bahwa ada perbedaan dan variasi tiap
periode. Dan yang seharusnya dilakukan adalah partisipasi, bukan
apatisme. Atau mungkin cara pandang mahasiswa terhadap penempatannya,
yang memfavoritkan instansi tertentu di Depkeu, yang akhirnya berujung
pada diskriminasi pikiran atas spesialisasi jurusan maupun instansinya.

Lebih ekstrim lagi, yang sering kita lakukan namun terjustifikasi
hanya karena sudah diterima umum adalah pengelompokan kadar keimanan
seseorang. Dengan sebutan ikhwan dan akhwat, bukan ikhwan – bukan
akhwat, ikhwan sepotong, akwat baru dan lainnya. Yang menjadi
permasalahan adalah, definisi dari kata ikhwan dan akhwat yang
sebenarnya luas, menjadi sangat sempit dan berubah maknanya. Padahal,
sebuah keimanan tidak bisa diukur atas apa yang terkasat mata saja.

Mungkin masih banyak diskriminasi pikiran yang sering kita lakukan.
Hal itu yang menjadikan kita mahasiswa kerdil, terjebak dalam jubah
kebesaran almamater intelektual mahasiswa. Menjadi mahasiswa, berarti
belajar menjadi manusia berjiwa besar. Yang siap akan pundi – pundi
penerimaan berbagai perbedaan. Bukan menjadi tukang klasifikasi dan
melakukan diskriminasi – walau masih dalam pikiran.

Ketika kita merestrukturisasi pikiran kita sebagai upaya preventif
akan diskriminasi, maka tak ada lagi justifikasi untuk pendiskreditan.
Tak ada lagi pledoi untuk diskriminasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: