Skip to content
Desember 3, 2007 / dewanggastanpbg

Racun Manis Bernama Gratis

Oleh: Aulia Rahimi
Gratis adalah solusi saat biaya menghalangi bangsa ini menjadi
cerdas dan pandai. Namun jika implementasinya berlawanan dengan cita
– cita mencerdaskan kehidupan bangsa, maka ini hanyalah keberhasilan
semu pemerintah dan realisasi palsu konstitusi.


Diantara himpitan ekonomi, kemiskinan dan kesulitan hidup, sekolah
gratis memang terdengar sangat manis. Tak heran STAN masih sangat
diminati hingga kini. Terbukti, dua kali berturut turut memecahkan
rekor MURI sebagai perguruan tinggi dengan pendaftar terbanyak.

Bicara masalah gratis, sebenarnya tidak ada konstitusi yang
mengharuskan demikian. UUD 1945 hanya mengamanatkan pada pemerintah
untuk mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan. Namun sekali lagi
bangsa ini dikhianati. Karena hingga kini amanat tersebut belum pernah
terealisasi Tahun 2008, pemerintah hanya mencanankan anggaran
pendidikan 12,3% dari APBN (Jawa Pos, 2007). Alih – alih gratis,
pendidikan murah saja sulit ditemui.. Belum lagi korupsi yang
menggerogoti disana -sini. Yang justru terjadi adalah materialisasi
pendidikan. Biaya pendidikan membumbung tinggi. Dari jenjang pra TK,
hingga perguruan tinggi semuanya berarah pada UUD (ujung – ujungnya
duit).
Namun benarkah sekolah gratis adalah solusi untuk bangsa ini? jika
dilihat sepintas, untuk masyarakat ekonomi ke bawah, hal ini tentu saja
menggembirakan. Tap tunggu dulu. Karena perlu analisis yang dalam untuk
mengratiskan pendidikan. Sekolah gratis bisa jadi boomerang. Tidak
hanya karena masalah budget, tapi juga karena bangsa ini masih belum
siap untuk menerima pendidikan gratis. Tentu saja pendapat ini adalah
sebuah hipotesis yang juga butuh pengujian.

Yang terjadi di sekolah gratis biasanya hanyalah penggratisan SPP.
Yang oleh beberapa kalangan bisa dianggap tidak material. Sedang
imbasnya bisa sangat luar biasa. Karena subsidi maupun dana pengganti
SPP dari pemerintah tidak sama nilainya dengan yang diperoleh sekolah
sebelumnya. Sehingga sekolah tidak mempunyai cukup dana untuk
meningkatkan kualitas. Baik infrastruktur maupun pengajaran oleh para
guru. Setidaknya hal ini yang terjadi sekolah saya.

Daerah asal saya adalah salah satu daerah tingkat II yang
menggratiskan sekolah dan kesehatan. Namun kebijakan tersebut terus
menerus menimbulkan polemik. Awalnya memang disambut antusias oleh
masyarakat. Ketidaksetujuan sekolah akan kebijakann tersebut hanya
diangap sebagai bukti materialisasi pendidikan yang dilakukan sekolah.
Namun seiring waktu berjalan, keluhan yang terjadi makin banyak.
Pembebasan biaya tersebut menuntut orang tua untuk ikut menanggung
pembiayaan non operasional yang tak sanggup ditanggung sekolah oleh
karena sedikitnya dana yang diberi pemerintah. Sayangnya, kebutuhan ini
tidak disertai dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran serta
mereka, terlebih masalah pembiayaan. Yang di tahu masyarakat adalah
sekolah tak lagi perlu membayar. Namun enggan ikut serta dalam
prosesnya. Padahal sebagian besar masyarakat masih menetapkan kualitas
dan orientasi hasil yang sama seperti sebelumnya, bahkan berharap ada
peningkatan. Sedang yang terjadi, jangankan ada peningkatan, eksistensi
sekolah saja masih menjadi kekhawatiran. Para guru khawatir, kualitas
sekolah yang makin menurun, dapat mempengaruhi proses maupun hasil
belajar siswa.

Pembebasan biaya juga mengakibatkan penurunan motivasi belajar pada
siswa. Wajar saja. Ketika gratis, tak ada pengorbanan material yang
dikeluarkan sekolah akan menjadi hal yang sepele. Sekolah semaunya.
Gratis juga kurang mengajarkan keadilan. Karena perlakuan sama rata
tidak bisa serta merta disebut adil. Bagi yang mampu, biaya sekolah
bukanlah masalah, namun bagi yang papa pastilah sangat terasa. Tingkat
pengorbanan yang berbeda inilah yang menyebabkan gratis untuk seluruh
kalangan menjadi kurang adil, apalagi bila dihubungkan dengan budget
pemerintah yang terbatas. Akhirnya, program ini menjadi tidak efektif.
Juga tidak efisien.

Kasus yang terjadi di daerah saya ini tentu tidak bisa di jadikan
premis apapun untuk ditarik sebuah kesimpulan besar bahwa sekolah
gratis tidak ideal. Ketidakidealan yang terjadi mungkin akibat dari
ketidaksiapan pemerintah daerah untuk membebaskan biaya sekolah.
Pemerintah idealnya menyiapkan subsidi besar bagi sekolah karena dalam
masa transisi tersebut, sekolah tidak bisa serta merta mandiri.
Masyarakat juga tidak bisa disalahkan atas partisipasinya yang pasif
dalam mendanai sekolah. Karena bilamana hal itu terjadi, berarti ada
kebohongan publik atas kebijakan tersebut. Rakyat tetap saja membayar,
walaupun dengan bentuk lain. Dan akhirnya sekolah gratis hanyalah
korban dari pendidikan yang dipolitisir.

Mendengar keluhan dari beberapa guru, saya ingat kampus saya.
Bukanlah kuliah saya saat ini juga gratis? Apakah mungkin ada kesamaan
yang tidak disadari? Hingga saat ini, lembaga memang masih konsisten
untuk tidak menarik iuran apapun sebagai biaya kuliah selain iuran
mahasiswa yang ditarik saat daftar ulang. Itupun dilakukan dan dikelola
oleh BEM, bukan lembaga. Secara kasat mata, tidak ada kebohongan publik
yang terjadi.
Lalu bagaimana dengan kualitas? Mungkin persamaannya disini. Semua
menyadari bahwa kualitas perkuliahan masih kurang maksimal. Buku yang
tidak mengcover kebutuhan, gaji dosen yang minim, sarana yang terbatas,
dan lainnya. Namun selalu ada justifikasi. Alasannya? karena kuliah
kita gratis. Banyak keluhan atas keadaan infrastruktur kampus, namun
hal itu hanya menjadi keluhan yang tertahan yang kemudian bias ditengah
percakapan antar mahasiswa. Kenapa? Karena kuliah kita gratis. Ada
harapan akan peningkatan fasilitas dan penyamaan dengan tempat
perkuliahan lain. Namun kita sadar diri untuk tidak menuntut lebih.
Mengapa? Karena kuliah kita gratis. Lama – lama gratis membungkam
tuntutan kampus ideal yang kritis. Gratis memang tidak membuat
pelarangan untuk itu, tapi gratis membius kita untuk memberi banyak
kompromi atas ketidak idealan.

Lalu bagaimana dengan kita mahasiswanya? Apakah kita sama dengan
masyarakat di daerah saya? Yang ingin hasil optimal tapi tak ingin
terlibat dalam proses? Boleh jadi sama saja. Ada dua alasan untuk itu.
Tidak mampu. Kebanyakan mahasiswa STAN berasal dari keluarga dengan
tingkat kemampuan ekonomi menengah bahkan menengah ke bawah. Karena
itu, gratis adalah salah satu motivasi. Bila kegiatan pendanaan swadaya
dilakukan, tentu saja akan memberatkan.

Alasan kedua adalah tidak mau. Gratis adalah sebuah jaminan dari
lembaga dan kualitas adalah satu paket didalamnya. Kekurangan atas
kualitas adalah konsekuensi dari jaminan gratis yang diberikan.
Mahasiswa tidak perlu berpartisipasi. Toh selama ini mahasiswa sudah
cukup banyak mengeluarkan biaya atas kurangnya fasilitas meskipun
secara pribadi. Seperti fotokopi buku – buku, karena kualitas dan
kuantitas perpustakaan yang tidak memadai.

Lalu kepada siapa konsekuensi tersebut dibebankan? Jika lembaga yang
harus bertanggung jawab, maka pembiayaan peningkatan kualitas tersebut
adalah tanggung jawab penuh lembaga mewakili pemerintah. Alangkah
senangnya jika cerita indah tentang BLU itu segera terealisasi.
Peningkatan kualitas terwujud tanpa partisipasi pendanaan dari
mahasiswa.

Namun BLU masih menjadi masa depan. Yang menjadi harapan namun belum
terwujud di masa sekarang. Sedang yang terjadi saat ini masihlah buaian
manis gratis yang beracun. Ini bukanlah pengajaran kufur nikmat Tuhan
dan pengingkaran kenyataan kepada lembaga ataupun pemerintah bahwa kita
disini bersekolah gratis. Namun sebuah penyadaran bahwa tidak ada
konsensus jika sekolah gratis lalu ada justifikasi atas rendahnya
kualitas pelayanan maupun fasilitas.

Kalaupun hal itu yang selalu terjadi, maka pemerintah rasanya perlu
mengkaji ulang kebijakannya menggratiskan sekolah. Bukan dengan
peniadaan sekolah gratis, namun pembenahan implementasinya. Jangan
sampai langkah positif tersebut justru membuat kualitas pendidikan
makin mundur. Sekolah gratis, tapi siswanya tidak terfasilitasi.
Sekolah gratis, tapi siswanya gaptek. Sekolah gratis, tapi siswanya
bodoh. Akhirnya, sekolah gratis hanya menjadi keberhasilan semu
pemerintah. Serta realisasi palsu undang – undang.

Semoga saja tidak begitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: