Skip to content
Desember 4, 2007 / dewanggastanpbg

Lagi-lagi Gedung Rusak, Lagi-Lagi Prihatin

(Civitas online) Lagi-lagi tentang kerusakan gedung kuliah.
Hari ini,Selasa (4/12), kampus masih diguyur hujan. Saya setengah
berlari menuju gedung C. Sudah terlambat,pikir saya, sering ketiduran
di kelas sudah cukup buruk, jangan buat masalah lagi dengan Bu Lies.

Setelah memaksa jantung bekerja melebihi kapasitas normalnya, saya tiba
di ruang C 301. Lengang. Tak lebih dari sepuluh orang. Sebagian tengah
menekuni buku tebal yang runyam berjudul Ekonomi Internasional. Sisanya
larut dalam diskusi serius mengenai lifting minyak dan kenaikan harga,
kaitannya dengan perekonomian dan apakah hujan semalam suntuk telah
mengakibatkan banjir yang cukup besar untuk menghalangi Bu Lies masuk
kelas hari ini.

Seorang rekan, Ria, tengah termenung di pinggir jendela ruang bioskop
itu. Saya menghampirinya. Dia menanyakan harga payung dan saya dengan
cepat mengalihkan pembicaraan ke arah diskusi tidak penting tentang
Gedung F yang belum juga selesai direnovasi, sehingga kami harus
terjebak kuliah di bangunan sadis Gedung C. Gedung penyiksa kandung
kemih, toiletnya dibanjiri bakteri E Coli dan mungkin juga Human
Papiloma Virus saking kotornya, dan air keran mati. Berkali-kali kami,
cewek-cewek ini, harus melakukan perjalanan lintas gedung demi ke
toilet. Juga kenapa rumput yang tebal dan tinggi mirip ilalang bisa
tumbuh subur di atap Gedung A sehingga kami bisa melihatnya dengan
jelas dari ruang ini.
Sekilas tampaknya semua berjalan dengan wajar. Seolah hari ini hanyalah
salah satu dari sekian banyak hari membosankan di kampus ini. Namun
sebenarnya tidak. Ada yang janggal. Ada yang tidak beres, dan
penyebabnya adalah ini : semua diskusi tadi kami lakukan tidak dengan
duduk nyaman di atas kursi kuliah.
Pukul 08.30, Bu Lies datang dan langsung menyadari kejanggalan ini.
Raut mukanya terlihat gusar saat mengatakan, “Walah-walah, kok kelasnya
banjir sampai begini? padahal ada atapnya lho. Terus nggak ada
kursinya..Gimana kita mau kuliah?”
Tak ada jawaban. Seisi kelas masih sibuk dengan kegiatan menjarah kursi
dari ruangan-ruangan lain yang sialnya, sudah penuh dihuni mahasiswa.
Penjarahan ini membuat kuliah dua SKS diundur sampai empat puluh lima
menit dari seharusnya.
Akhirnya, semua telah duduk manis di kursi. Tidak berbasah-basah ria
dengan lesehan di lantai yang kebanjiran. Tenang, siap menerima ceramah
tentang teori Leontief. Namun Ibu Lies Sunarmintyastuti, dosen yang
sekaligus Kepala Sekre Anggaran, malah mengeluarkan handphone-nya dan
menelepon.
“Gimana sih? Kok bisa gedung kuliah banjir?! Terus kenapa kursinya bisa nggak ada?”
“Nggak ada duit apa emang nggak dianggarkan?”
“Kenapa kursi yang di luar rusak semua?”
Beberapa komplain lagi, telepon diputus secara sepihak. Bu Lies belum puas. Menelepon lagi, kali ini orang yang berbeda.
“…..si Bowo tak telepon malah ditutup, gimana sih…”
Pembicaraan via telepon itu berlangsung beberapa saat hingga seorang
pria berkemeja biru menghampiri. Orang yang ditelepon tadi, Tri Wibowo,
Kepala Bagia kepegawaian dan sarana prasarana STAN. Pembicaraan kedua
orang penting ini berlangsung dengan sedikit serius.
Akhirnya pria berkemeja biru tadi meninggalkan kelas. Kuliah dimulai.
Dan pengantarnya adalah kata-kata sang dosen Ekonomi Internasional
kami, “yah, mau bagaimana lagi? Saya sebel juga sebenrnya. Tapi ya
gimana. Ya kalian ikut prihatin aja ya..”
Yah, ini hanya salah satu dari sekian banyak hari memprihatinkan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
[Dian Arsita K]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: