Skip to content
Desember 5, 2007 / dewanggastanpbg

Mengkritisi Dinamika-Dinamika Ideal, Sebuah Solusi ?

Oleh Fita Rahmat

Ketika sebuah tradisi tetap dipertahankan dengan keyakinan akan
kebaikannya sudah sewajarnya pelayanan terbaik yang diberikan. Apalagi
tradisi ini memakan pengorbanan ekonomi bagi yang mengikutinya.


Dinamika sudah berakhir. Namun jejaknya dengan mudah terlupakan.
Apalagi jika tidak ada kesan yang melekat di hati. Hanya sebuah tradisi
rutin yang harus dijalani dan akhirnya berakhir.

Bukan perasaan tidak terima akan
pelayanan yang diberikan panitia Dinamika. Sudah tentu panitia sudah
bekerja keras dalam usaha memberikan pelayanan terbaik dengan berbagai
rangkaian acaranya.

Namun sebuah kerja keras akan sia-sia jika tidak efektif mencapai
tujuan. Apalagi jika tujuannya tidak jelas. Hanya mengikuti tradisi
senior.

Sudah saatnya kita memikirkan esensi sebuah Dinamika. Mungkin para
senior dahulu sudah memikirkan esensinya sehingga membuat rangkaian
acara seperti sekarang ini. Mereka pasti sudah memikirkan yang terbaik.

Zaman sudah berubah. Dunia berkembang. Sudah waktunya kita
mengkritisi semua yang biasa kita lakukan. Untuk apa ada Dinamika?
Mengapa Dinamika seperti ini? Apa tujuannya? Kalau gak guna kenapa
harus ada?

Jika sesuatu yang sudah biasa itu sudah tidak sesuai, pikirkan
sesuatu yang baru. Sesuatu yang diperlukan mahasiswa saat ini. Jiwa
kreatif dan inovatif perlu dimunculkan.

Ada banyak kebaikan yang didapat dari Dinamika. Salah satunya,
Dinamika adalah sarana potensial untuk menanamkan semangat idealis
mahasiswa.

Kemudian Dinamika juga menjadi ajang membentuk kebersamaan
mahasiswa. Jika kebersamaan yang diberikan Ospek pada angkatan 1998
dapat menumbangkan rezim Soeharto, bukan tidak mungkin kebersamaan yang
diberikan Dinamika dapat menumbangkan rezim korupsi.

Jika sejak awal Dinamika sudah menanamkan semangat anti korupsi pada
mahasiswa baru, selama masa studi dosen juga mendukungnya, dan setelah
memasuki dunia kerja lulusan STAN telah menjiwainya, bukan tidak
mungkin kebersamaan yang melahirkan kekompakan dapat memberantas
korupsi di negara ini.

Bukankah mahasiswa adalah agent of change? Perubahan ada di tangan
kita. Bangsa ini telah menunggu masa depan yang cerah yang dibawa oleh
kita, generasi muda.

Selanjutnya timbul pertanyaan, seperti apa Dinamika yang ideal?
Kita dapat mencermati pendapat Imam Prasodjo bahwa Ospek (dalam hal ini
pada universitas) harus mengembangkan dan memperkenalkan adalah misi
kampus dalam tri Dharma perguruan tinggi yakni sebagai lembaga
pendidikan pengajaran, pengabdian, dan pelayanan masyarakat. STAN
sebagai perguruan tinggi, sejatinya memiliki misi yang sama pada
Dinamikanya.

Dinamika mungkin sedikit berbeda dengan Ospek dalam hal senioritas
dalam bentuk kekerasan. Namun dengan adanya panitia bidang Peneva
(Penilaian dan Evaluasi) dengan ciri khas wajah tegas tanpa senyum yang
siap memberikan hukuman-bahkan fisik seperti push-up-dan bentakan
dengan dalih kedisiplinan, menggeser sedikit pandangan bahwa Dinamika
berbeda dengan ospek. Peneva memberi image bahwa ada senior yang lebih
berkuasa memberikan hukuman dan harus ditakuti. Padahal penerapan
kedisiplinan bisa dilakukan dengan cara lain.

Mahasiswa bukan anak kecil yang harus diajari disiplin dengan cara
keras. Mereka sudah cukup dewasa memahami apa itu kedisiplinan. Tidak
relevan memberikan pengajaran pada orang yang cukup dewasa dengan cara
memberi pengajaran seperti kepada anak kecil.

Dalam ilmu psikologi mengenai komunikasi efektif, bahasa komunikasi
yang efektif untuk manusia dewasa muda adalah dengan bahasa logika.
Bahasa yang mengajak mereka untuk berpikir. Bahasa yang cenderung
menyerang, menyalahkan, dan menghukum malah akan dibalas dengan hal
yang sama.

Kita tidak memungkiri dari tahun ke tahun ada saja kasus mahasiswa
baru yang kurang ajar terhadap panitia. Bahkan terhadap panitia
mentoring yang notabene paling bersahabat terhadap mahasiswa baru.

Sebagai bahan pertimbangan, kita dapat mencermati pendapat dari berbagai narasumber di bawah ini.

“Sejalan dengan kultur akademis, perlu diperkenalkan budaya
berargumen, berpikir logis, dan mengedepankan rasio. Pengenalan budaya
argumentasi tentu berbeda dengan tradisi bentak-membentak dan
sumpah-serapah dalam ospek selama ini yang justru menunjukkan sisi
paling bodoh seorang mahasiswa perguruan tinggi,” kata pakar sosiologi
Imam B Prasodjo pada KOMPAS 14 September 2007.

Sedangkan psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),
Yayah Khisbiyah, mencontohkan, pendidikan di negara-negara Barat yang
lebih berhasil dengan pengenalan sekolah yang lebih bersahabat.
Misalnya saja, pengenalan bagian-bagian sekolah dengan cara berkeliling
ke bagian-bagian di sekolah.

Adapun program orientasi untuk mahasiswa baru S1 di University of
California, Los Angeles (UCLA) diisi dengan kegiatan akademik, seperti
presentasi singkat dekan fakultas tentang integritas akademik UCLA
hingga tur keliling kampus dan orientasi tentang beasiswa, parkir, dan
perumahan. Sedangkan bentuk ideal ospek yang tengah dipertimbangkan
Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah bentuk outbond. Seorang alumni
Institut Pertanian Bogor (IPB) merekomendasikan seminar sehari all
about kampus demi efektifitas Ospek.

Ospek di Universitas Diponegoro (Undip) diganti dengan Pekan
Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) dalam bentuk kegiatan diskusi dan
kunjungan lapangan serta kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat
edukatif. Kegiatan PPMB ini hampir 80 persen dilaksanakan di dalam
kelas (ruangan).

Bentuk ideal Dinamika dapat kita rangkum dari berbagai bentuk Ospek
di atas. Yang terpenting adalah ada sebuah misi untuk menanamkan
semangat idealis mahasiswa, selain misi studi dan pengenalan kampus
terhadap mahasiswa baru. Dinamika idealnya memberikan persiapan mental
dari siswa menjadi mahasiswa, dasar perjuangan mahasiswa, visi, misi,
tujuan, dan peran seorang mahasiswa khususnya sebagai calon pengawal
keuangan Negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: