Skip to content
Mei 19, 2008 / dewanggastanpbg

MOMENTUM KEBANGKITAN BANGSA STAN

Pendahuluan

Seratus tahun
kebangkitan nasional diekspos besar-besaran di media massa. Semangat
sejarah 1908-2008 itu disuntikkan di Istora Senayan kepada para pebulu
tangkis Indonesia untuk meraih piala Thomas dan Uber walau akhirnya
gagal diraih keduanya. Namun demikian perjuangan mereka patut diacungi
jempol. Peringatan peristiwa yang dipicu lahirnya Boedi Oetomo itu pula
yang digunakan para pejabat Negara untuk membangkitkan semangat
rakyatnya untuk berkarya. Tokoh-tokoh bangsa banyak berbicara kepada
konstituennya dengan semangat kebangkitan dalam benaknya. Beberapa
kelompok pemuda juga memperingati kebangkitan nasional dengan berbagai
 cara, ada yang melakukan long-march,
konvoi keliling daerah seperti yang dilakukan almarhum Sophan Sopiaan,
ada pula yang menggelar diskusi demi menciptakan pikiran-pikiran kritis
dan bermanfaat. Juga rakyat yang memanfaatkan momentum kebangkitan
nasional dengan menolak kenaikan bahan bakar minyak. Hampir setiap
elemen bangsa ini membakar kembali semangat yang disulut pemuda
generasi 1908.

Oleh: Wirawan Purwa Yuwana[i]

 

Lantas bagaimana kebangkitan bangsa STAN? Pertanyaan ini agak sulit dijawab. Hingga tengah bulan kebangkitan ini nyaris tidak ada dengung kebangkitan bangsa.  Bahkan
cenderung banyak permasalahan di dalam perguruan tinggi kedinasan
paling terkenal senusantara ini. Dan agak ganjil karena seolah-olah
tidak ada upaya untuk mengidentifikasi masalah serta membahasnya untuk
mencari solusi yang sesuai. Yang ada justru saling menunggu
ketidakpastian, menjanjikan mimpi bersyarat “jika ini jika itu”, atau
bahkan tenggelam dalam dunia materialisme dan hedonisme.

Kampus ini
seperti menjadi buta sejarah. Sejarah seolah-olah hanya menjadi masa
lalu yang jauh dari konteks kekinian. Bahkan jika perlu sejarah dibuang
ke tempat sampah. Padahal s
ebagaimana orang bijak katakan,
jangan melupakan sejarah ketika hendak mengambil keputusan saat ini.
Sebagai mahasiswa yang mempelajari akuntansi pun akan sangat paham
bahwa peristiwa historis masa lalu, dalam hal ini peristiwa keuangan,
akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan melalui sarana
laporan keuangan.
 

 

Mahasiswa STAN

Banyak yang
memprotes jika mahasiswa dulu dan sekarang dibanding-bandingkan dengan
alasan kenyataan situasi dulu dan sekarang sangat berbeda. Tidak
masalah memang berbeda pendapat seperti ini. Namun perlu diketahui
bahwa akuntansi saja memiliki karakteristik kualitatif comparability, ekonomi juga menggunakan asumsi ceteris paribus. Oleh karena itulah hendaknya tidak perlu bersilang pendapat mengenai hal itu.

Beberapa
teman satu angkatan dengan penulis pada saat menempuh Diploma III STAN
berpendapat bahwa mahasiswa STAN dulu dan sekarang sudah jauh berbeda.
Ketika seorang mahasiswa yang melintas di depannya dengan ransel
terlihat berat, berjalan cepat dan menundukkan wajahnya ia berpendapat
bahwa tipikal mahasiswa seperti itu yang membawanya bernostalgia dengan
STAN masa lalu. Mahasiswa STAN yang dahulu begitu terlihat begitu berat
memperjuangkan eksistensi hidupnya. Hingga yang ada dipikirannya
hanyalah bagaimana agar ia bisa hidup dua bulan kedepan, tidak di-DO,
dan bisa melaksanakan kegiatan keahasiswaan dengan sukses dan lancar.

Sekarang lihat saja mahasiswa STAN yang nongkrong dibeberapa tempat bersama teman-temannya. Ngobrol ngalor-ngidul
tidak jelas apa yang dibicarakan seolah-olah mereka sudah meraih masa
depan. Ada juga sepasang mahasiswa-mahasiswi STAN yang bergandengan
tangan berjalan berdua tanpa merasa berdosa, atau yang diwarung saling
menyuapi layaknya suami istri, atau yang menyusuri kegelapan malam
kampus STAN sambil bermesraan. Perhatikan juga berapa orang yang
memanfaatkan waktu untuk belajar di perpustakaan. Nyaris tidak ada
perubahan kuantitas. Padahal jumlah mahasiswa STAN sekarang jauh lebih
besar dibandingkan dahulu. Hal ini dapat dikatakan bahwa prosentase
minat mahasiswa STAN terhadap perpustakaan menurun. Maka jangan
salahkan lembaga yang tidak memperbaharui literatur di perpustakaan
karena sia-sia saja membeli buku tapi tidak dibaca. Juga jangan
salahkan kondisi perpustakaan yang seperti museum, tidak berkembang dan
hanya satu lantai karena sejarah perpustakaan STAN tidak pernah
mencatat terjadinya overload pengunjung perpustakaan.

Sudah sering majalah kampus mem-blow up
dekadensi moral mahasiswa STAN. Keluhan tokoh-tokoh masyarakat sekitar
STAN yang mengatakan bahwa mahasiswa STAN tidak ramah lagi. Juga
pendapat beberapa dosen yang mengatakan bahwa menjelaskan materi kuliah
kepada mahasiswa sekarang relatif lebih susah dibandingkan mahasiswa
dahulu. Pun opini kakak kelas yan termasuk lulusan terbaik D IV
Akuntansi tahun lalu yang menyatakan bahwa tidak ada gurat perjuangan
lagi di wajah mahasiswa STAN.

 

BLU STAN

STAN sudah
menjadi Badan Layanan Umum saat ini. Berbagai janji-janji kemajuan STAN
setelah menjadi BLU. Ingin membangun gedung baru. Juga standar setiap
kelas yang ada AC dan proyektornya. Pun fasilitas broadband
untuk internet gratis. Atau memperbanyak koleksi literatur
perpustakaan. Segala usaha akan dilakukan untuk mempertahankan dan
meningkatkan kapabilitas lulusan STAN. Dan segala janji-janji lain yang
membumbungkan impian mahasiswa untuk memiliki kampus yang bagus.
Janji-janji ini yang perlu dicatat dan diawasi secara ketat oleh
mahasiswa. Jangan sampai mahasiswa tidak bisa mendeteksi satu kesalahan
pun yang dilakukan oleh pengelolan BLU STAN. Jadi mahasiswa tidak hanya
berpangku tangan atau bahkan menutup mata jika terjadi distorsi
pencapaian STAN menjadi lebih baik.

Coba kita
lihat kembali buku-buku yang kita pinjam dari STAN. Setiap pemegang
buku penulis yakin bisa mengetahui kualitas buku yang dipinjamnya.
Mahasiswa tentu bisa menilai apakah buku itu memiliki kualitas produk
asli atau produk bajakan atau bahkan dibeli dipasar loak. Dari
permasalahan buku ini saja bisa memperluas ke aspek yang lain.
Mahasiswa bisa bermain-main dengan logikanya mengenai anggaran
pengadaan buku literatur. Mahasiswa bisa mengestimasi berapa selisih
harga jika buku literatur itu dibeli langsung dari penerbit atau
distributor resminya dengan harga buku jika dibeli dari Kwitang atau
Pasar Senen. Mahasiswa juga bisa mengetahui siapa yang bertangung jawab
atas pengadaan buku. Dengan demikian mahasiswa pun bisa langsung
mengaplikasikan ilmu audit yang ia dapatkan pada proses perkuliahan
untuk mengawal cita-cita STAN menjadi lebih baik.

Selanjutnya mari kita lihat tower yang menjulang disamping Gedung L. Dahulu keberadaan tower itu untuk fasilitas internet murah di kampus. Tapi sekarang tidak terdengar lagi untuk apa kegunaan tower tersebut. Jika pertanyaan mengenai tower ini dilanjutkan, maka akan timbul keingintahuan apakah tidak ada sinyal internet pada tower itu saat ini. Jika tidak ada maka keberadaan tower
itu seperti mati suri. Namun jika ada sinyal internet, maka perlu
dipertanyakan siapa yang menggunakannya. Pada kenyataannya mahasiswa
tidak pernah mencicipi fasilitas itu sekarang. Lantas jika ada sinyal
dijual kemana sinyal itu. Pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban yang
panjang lebar.

Bukan hanya
masalah fasilitas belaka. Masalah dosen pun masih sangat kental di
kampus STAN. Masih banyak dosen-dosen yang masih mempunyai paradigma pasal
satu dan pasal dua. Pasal satu menyatakan bahwa dosen selalu benar.
Jika dosen salah maka kembali pada pasal satu. Sebagai contoh lain
perhatikan saja dosen yang mangkir atau menentukan waktu kuliah baik
secara pribadi ataupun melalui negosiasi dengan mahasiswa terlebih
dahulu. Berbagai alasan menjadi justifikasi. Ada yang melaksanakan
tugas ke luar kota, tiba-tiba dipanggil mendadak oleh menteri, rapat
dengan pejabat eselon, dan sederet alasan lain dikemukakan. Efek
negatif jadual kuliah yang tidak well-planned pun
dikesampingkan. Kebutuhan mahasiswa untuk mengembangkan diri dengan
tidak hanya semata-mata kuliah di kampus pun ditelantarkan. Dengan
kondisi ini paradigma belajar hanya melalui kuliah di kampus justru
semakin mengkerdilkan wacana mahasiswa.

Selain
permasalahan internal kampus BLU demi kebaikan STAN pun harus mampu
mempertahankan persepsi masyarakat bahwa ujian saringan masuk STAN itu
masih sangat dijamin bersih tanpa manipulasi “pintu belakang” atau
“pintu samping”. Seorang dosen bercerita bahwa ada orang tua mantan
mahasiswa STAN yang menuntut karena tidak menerima kenyataan bahwa
anaknya di DO. Usut punya usut mantan mahasiswa STAN itu masuk melalui
jalur belakang dengan membayar sejumlah uang. Namun ketika ditanya
siapa oknum yang menerima uang itu, orang tua mantan mahasiswa tersebut
tidak mengaku. Cerita itu menurut hemat penulis telah melukai
kebersihan citra STAN sekaligus menunjukkan adanya indikasi
ketidakwajaran dalam tubuh STAN. Ditengah maraknya joki pendidikan,
seharusnya STAN bisa membuktikan kemurnian ujian saringan masuknya.
Karena kemurnian ini pulalah yang menutup coreng pendidikan Indonesia.

 

Penutup

Setidaknya
coreng moreng kampus STAN diatas indikasinya baru diketahui dipermukaan
saja. Dibutuhkan keberanian untuk mengungkapkannya serta meluruskan
kebenarannya. Tidak salah pendapat Menteri Keuangan yang menyatakan
bahwa jika ingin melihat kondisi bobroknya departemen keuangan maka
lihatlah miniaturnya, yaitu Kampus STAN.

Kini dengan
momentum seratus tahun kebangkitan nasional ini sudah sepatutnya bagi
setiap elemen kampus STAN baik pegawai, instansi, mahasiswa, alumni,
maupun masyarakat sekitarnya bersama-sama mewujudkan cita-cita
menjadikan STAN yang berkembang lebih baik. Dengan momentum ini mari
kita sudahi segala kebobrokan, keculasan, dan keburukannya.
Langkah-langkah nyata dan revolusioner sangat dibutuhkan. Tentu saja
agar kedepan mahasiswa STAN dan lulusannya tidak berjalan dengan muka
yang bopeng sebelah.

 


[i] Penulis adalah Mahasiswa Semester 8 Akuntansi

disadur dari pembawacerita.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: